Pria berusia 34 tahun ini telah bekerja di PT. Budi Kaya II selama 9 tahun. Pak Kas (panggilan akrabnya) sebelumnya bekerja dibagian spot building di PT. Bumi Kaya III, tetapi kini ia dipindahkan di bagian repair pipa. Bekerja di PT. Bumi Kaya II bukannya pekerjaan pertama yang ia geluti. Sebelumnya ia pernah bekerja di perusahaan kontraktor, lalu berpindah ke Cessa Pabrik Besi , dan menjadi teknisi fotocopy di daerah Pondok Gede. Pak Kas telah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Istrinya sendiri memiliki usaha warung nasi (wateg) di dekat rumahnya demi menambah penghasilan.
Bapak Rahmat
Bapak Rahmat merupakan lulusan STM di kota kembang, Bandung. Beliau baru 6 bulan pekerja dibidang painting sebagai pensortir barang, seperti pipa dan besi di PT. Bumi Kaya II. Pekerjaannya sebagai penyortir pipa dan gas tidak dilakukan seorang diri melainkan dilakukannya bersama seorang temannya. Beliau mengaku bahwa ia baru pertama kali bekerja sebagai buruh pabrik. Sebelumnya beliau bekerja sebagai wirausahawan. Pria berusia 40 tahun ini sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak.
Bapak Yadi
Bapak Yadi bekerja di PT. Bumi Kaya ini baru sekitar 4 bulan. Beliau pekerja di bagian gudang sebagai pengepak pipa dan besi yang telah melewati tahap painting dan siap untuk dipasarkan. Sebelumnya, pria berusia 26 tahun ini bekerja di sebuah toko swalayan, Club Store.
Bapak Yusuf
Setamatnya dari Sekolah Tinggi Mesin (STM) di Kota Garut, Ucup (panggilan akrab Yusuf) langsung bekerja di PT. Bumi Kaya II. Walaupun masih ditempatkan dibagian gudang Ucup disukai oleh rekan-rekan kerjannya. Ia sendiri baru 1 bulan bekerja di PT. Bumi Kaya II.
Bapak Puteranto Restiadji
Bapak Pungki (panggilan akrab Bapak Puteranto) bekerja di PT. Bumi Kaya II selama 13 tahun. Kini beliau bekerja sebagai kepala produksi dan berada pada devisi tabung gas dan elbow. Pria lulusan D3 ini sebelumnya pernah bekerja di Perusahan Siemen. Beliau telah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak. Istrinya bekerja sebagai guru pengajar Bahasa Jepang di beberapa perusahaan dan tempat kursus.
Hasil Observasi
PT. Bumi Kaya memiliki 3 perusahaan satelit di tempat yang sama yakni Industri Pulo Gadung. PT. Bumi Kaya II beralamatkan di Jalan Pulo Lentur kav E2 No.5, Jakarta Timur. Perseroan Terbatas ini ialah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pembuatan besi dan pipa. Salah satu hasil produksinya ialah tabung gas seberat 12 kilo gram yang kini banyak dipergunakan masyarakat sebagai pengganti minyak tanah. Banyak buruh yang bekerja di PT. Bumi Kaya yakni sekitar 500 orang tiap perusahaan satelitnya sehingga memungkinnya terjadi pemindahan pekerja dari perusahaan satelitnya. Contohnya seperti Bapak Kas yang tadinya bekerja di bagian spot building di PT. Bumi Kaya III dipindahkan ke bagian repair di PT. Bumi Kaya II.
Pt. Bumi Kaya II memiliki 4 bagian, yakni forming, press, repair, dan painting. Sebelumnya ada bagian electro painting tetapi kini bagian tersebut dipindahkan di PT. Bumi Kaya III. Kebanykan pegawainya berasal dari lulusan Sekolah Tinggi Mesin (STM) karena semua pekerjaan yang dilakukan di PT. Bumi Kaya beurusan dengan mesin, besi, dan pipa.
Para pekerja memulai pekerjaan mulai pukul 8.00 hingga 16.00. Batas lembur yang diberikan hingga pukul 18.00. Pada bagian pembuatan tabung jam yang diperlakukan agak berbeda, yakni menggunakan sistem shiff . Ada 2 shiffyang diberlakukan, yakni shiff pertama diberlakukan mulai pukul 8.00 hingga 16.00 dan shiff kedua mulai pukul 24.00 hingga 8.00.
Pemberian gaji kepada para pekerjanya dilakuka setiap 2 minggu sekali. Gaji yang didapatkan tiap pekerjaanya sesuai dengan pekerjaan apa yang mereka lakukan dan berapa lamanya mereka bekerja. Ada penghasilan lain yang diberikan selain gaji pokok, yakni uang lembur yang diberiakn kepada pekerja yang melakukan pekerjaan melebihan waktu kerjanya. Selain itu uang makan dan transportasi diberikan diluar gaji pokok. Walaupun demikian para pekerja masih mengeluhkan akan pendapatkan mereka yang kurang pada hal gaji yng diberikan PT. Bumi Kaya berada di atas UMR. Belum lagi PT. Bumi Kaya juga memperikan asuransi kesehatan dan kecelakaan kepada para pekerjannya.
Tidak ada komunitas tersendiri di PT. Bumi Kaya, tetapi tiap pekerjaanya berada dalam Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI).
Bapak Yayat Pria berusia 34 tahun ini telah bekerja sebagai pemetik teh di Argo Wisata Kebun Teh selama 6 tahun. Pekerjaan yang dijalaninya merupakan pekerjaan turun-temurun dari ayahnya yang juga bekerja sebagai pemetik teh. Walaupun beliau hanya lulusan sekolah dasar, beliau tetep tekun menjalani pekerjaannya. Beliau telah bekeluarga dan memiliki 2 orang anak yang berumur 12 tahun dan 4 tahun.
Bapak Akbar Bapak Akbar yang hanya lulusan sekolah dasar ini merupakan sahabat dan tetangga Bapak Yayat. Oleh sebab, beliau juga telah bekerja selama 6 tahun sebagai pemetik teh. Banyak suka dan duka yang dialami Bapak Akbar, salah satunya ialah hasil sedikitnya hasil panen dan kualitas teh buruk. Tetapi, bersama sahabatnyalah Bapak Akbar melewati kesehariannya.
Hasil Observasi
Argo Wisata Kebun Teh yang berada di Puncak, Jawa Barat merupakan idak hanya dipergunakan sebagai perkebunan teh, tetapi juga dijadikan sebagai tempat wisata keluarga. Selain itu, Argo Wisata Kebun Teh ialah sebuah kebun teh seluas 100 ha yang dimilik oleh pemerintah. Sehingga panen teh yang dihasilkan akan dieksport keluar negeri, seperti Belanda. Argo Wisata Kebun Teh ini memiliki kurang lebih 5000 pekerja. Setiap pekerjanya memiliki tugas masing-masing. Pekerjaan yang dilakukan meliputi pemupukan, penyiraman, pemangkasan rumput atau tumbuhan liar, pengobatan dan pemberian pestisida, dan pemetik teh.
Memetik teh dilakukan setiap hari mulai pukul 7.00 hingga 15.00. Pada jangka waktu itulah teh berada dalam kualitas yang terbaik untuk dipetik. Kendala yang dihadapi para pemetik teh ialah saat musim hujan, terlebih saat hujan yang tidak kunjung berhenti. Sering dan banyaknya hujan yang turun membuat pucuk daun teh menjadi tidak baik kualitasnya. Sehingga membuat para pemetik teh tidak mendapatkan hasil panen yang maksimal.
Pegawai yang bekerja di Argo Wisata Kebun Teh ini dibagi menjadi dua, yakni pekerja tetap dan buruh lepas. Pekerja tetap biasanya menggunakan pakaian bewarna coklat (seperti seragam pegawai negeri). Pendapatan yang didapatkan pegawai tetap kurang lebih Rp500.000,00. Selain itu, pegawai tetap mendapat fasilitas, seperti asuransi kesehatan (askes), tempat tinggal, dan uang pensiun. Sedangkan, buruh lepas biasanya menggunakan seragam berwarna merah dan penghasilan yang didapatkan sebesar Rp300.000,00. fasilitas yang didapatkan buruh lepas tidak selengkap pegawai tetap. Para buruh lepas hanya mendapatkan tempat tinggal. Itu pun dapat mereka tinggali selama mereka bekerja di Argo Wisata Kebun Teh.
Penghasilan yang didapatkan pemetik teh khusunya buruh lepas berdasarkan berapa banyak hasil panen yang didapatkan (dalam satuan kilo gram). 1 kg teh dihargai Rp600,00 dan biasanya para pemetik teh mendapatkan kurang lebih 30 kg. Hasil dari pemetikan teh dibayar setiap sekali dalam sebulan. Sehingga para pemetik teh, khususnya buruh lepas hanya mendapatkan penghasilan dar, buki hasil panen teh saja bukan mendapat gaji tetap setiap bulannya. Beda halnya dengan pegawai tetap yang selalu mendapatkan gaji tetap tiap bulannya.
Bapak Suwarno (36 tahun) Bapak yang satu ini berasal dari Indramayu. Pamannyalah yang mengajarkan ia teknik menggunakan kail dan jala dalam menangkap ikan sejak ia berumur 14 tahun. Berbekat keahliannya menangkap ikan, akhirnya beliau memutuskan menjadi seorang nelayan sebagai mata pencahariannya. Pada usia 16 tahun Bapak Suwarno memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Ia mencoba peruntungannya dengan menjadi kuli mengangkut jala dan ikan hasil tangkapan milik nelayan lainya. Pekerjaan tersebut dijalaninya selama 3 tahun. Akhirnya pada akhir tahun 1991 seorang temannya menawarkan ia pekerjaan yang lebih baik dari pada bekerja sebelumnya. Akhirnya Bapak Suwarno dapat mewujudkan impiannya yakni menjadi seorang nelayan sejati. Walaupun ia harus membayar sewa kapal dan membagi hasil tangkapannya dengan temannya, ia tetap bersyukur dan senang melakukan pekerjaannya. Hingga akhirnyalah setelah 4 tahun ia memutuskan untuk meninggal Indramayu dan mencoba peruntungan di laut lainya. Pantai Pangandaran ialah tempat perantauran yang dipilih Bapak Suwarno sebab teman-teman seprofesinya banyak yang mencoba peruntungan disana dan mendapatkan hasil yang baik. Di sanalah Bapak Suwarno menemukan pelabuhan hatinya. Ia bertemu dengan seorang wanita cantik yang kini telah memberinya 3 orang anak. Ternyata pendapatan yang didapatkan Bapak Suwarno tidak sesuai yang diharapkannya. Penghasilan yang didapatkaanya hanya cukup untuk kehidupan sehari-harinya. Ia bisa saja mendapatkan penghasilan lebih, tetapi ia harus meninggalkan keluarganya selama beberapa hari. Namun ia tidak mau melakukann hal tersebut. Sewaktu ia kembali ke kampung halamannya ia bertemu dengan teman kecilnya. Temannya inilah yang mengajak ia untuk menjadi ’penarik’ perahu di Pantai Ancol, Jakarta Utara. Ia pun mau menerima ajakan temannya. Hingga kini akhirnya Bapak Suwarno masih menjalani profesinya sebagai ’penarik’ perahu, walaupun terkadang ia juga masih mecari ikan di laut.
Bapak Tono (36 tahun) Bapak Tono marupakan sahabat dari Bapak Suwarno. Beliau berasal dari daerah yang sama, yakni Indramayu. Persahabatanya dengan Bapak Suwarno dimulai sejak mereka bertemu sebagai kuli angkut jala dan ikan hasil tangkapan di Indramayu. Tetapi, pekerjaan sebagai kuli angkut jala dan ikan hasil tanggapan hanya bertahan selama 2 tahun. Beliau merasa pekerjaan yang dilakukannya tidak sesuai dengan kata hatinya. Beliau berkeinan menjadi seorang nelayan yang menangkap ikan bukan kuli angkut jala dan ikan hasil tangkapan. Lalu beliau memutuskan untuk ikut naik ke kapal dagang yang berangkat dari Indramayu menuju Muara Karang, Jakarta. Hal yang membuat ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta ialah impiannya mendapatkan penghasilan yang lebih baik dari sebelumnya. Sesampainya di Muara Angke, Jakarta ia mencoba mencari nelayan lain yang butuh tenaga tambahan untuk mencari ikan. Hampir tiga hari ia belum mendapatkan orang yang membutuhkan jasanya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Bapak Achmad, seorang nelayan yang membutuhka teman dalam setiap perjalannya menangkat ikan. Dari Bapak Amat (panggilah akrab Bapak Achmad) ini keahliannya dalam menggunakan jala dan kail lebih terasah. Tak terasa sudah 1,5 tahun beliau berada di Jakarta sejak meninggalkan kampung halamannya. Beliau merasa keputusan untuk meninggalkan Indramayu hal yang benar. Ia pun lalu menikah dan kini dikaruniai 2 orang anak yang kini berumur 12 tahun dan 9 tahun. Pekerjaan sebagai nelayan masih ia jalani hingga 7 tahun kedepan. Tetapi, semakin berambahnya usia kedua buah hatinya pendapatan yang di dapatkannya mulai dirasa kurang. Walaupun cukup untuk biaya hidup, tetapi ia takut bila nanti ia tidak dapat memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Ia pun memutuskan untuk berpindah dari Muara Angke ke Pantai Ancol bersama dengan Bapak Achmad sahabatnya. Dari situlah ia mengganti profesinya dari nelayan hingga kini menjadi ‘penarik’ perahu.
Bapak Achmad Bapak Achmad atau yang biasa dikenal dengan Bapak Mamat ialah sahabat karib Bapak Tono sewaktu mereka bersama-sama menjadi nelayan di Muara Angke. Bapak Mamat sendiri memulai pekerjaannya sebagai nelayan sejak ia kecil. Beliau memang lahir dan besar di dearah Muara Angke. Sehingga menjala dan mengkail ikan bukanlah hal yang asing baginya. Sejak berusia 7 tahun ayahnya sering mengajak Bapak Mamat mencari ikan di laut. Dari situlah beliau ingin menjadi seorang nelayan sama seperti ayahnya. Walaupun sejak kecil beliau sering pergi melaut bukan bearti beliau selalu mendapatkan banyak hasil tangkapan. Tidak jarang beliau hanya mendapatkan sedikit ikan atau bahkan jika cuaca tidak mendukung beliau tidak mendapatkan ikan sama sekali. Biasanya Bapak Mamat selalu pergi bersama temannya untuk pergi mencari ikan. Namun sejak beliau ditinggal temannya merantau ke pulau seberang, beliau merasa kesulitan jika harus melaut seorang diri. Suatu ketika beliau bertemu dengan Bapak Tono yang sedang mencari pekerjaan. Disitulah Bapak Mamat mengajak Bapak Tono untuk membantu melaut dan bersahabatan mereka dimulai. Hingga akhirnya semakin banyaknya saingan dan semakin sedikinnya ikan yang ditangkap membuat Bapak Tono mengajak Bapak Mamat untuk mengubah haluannya dari pekerjaannya menjadi nelayan hingga ’penarik’ perahu. Bapak Mamat menerima ajakan Bapak Tono untuk mengubah pekerjaannya. Kini Bapak Mamat bekerja sebagai ’penarik’ perahu. Walaupun terkadang ia tetap pergi mencari ikan di laut. Ia melakukan hal tersebut sebab beliau terkadang merasa rindu dengan rutinitasnya sebagai nelayan.
Analisa Data
Dari data yang didapatkan dapat diketahui bahwa ada beberapa hal yang mempengaruhi kehidupan para nelayan khususnya di daerah Pantai Ancol, Jakarta Utara. Salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan mereka ialah pengalaman hidup yang dialami oleh nelayan sendiri, yakni suka dan duka yang mereka hadapi selama mereka melakukan pekerjaannya sebagai nelayan. Tidak hanya pengalaman saja, kemajuan dunia yang terus-menerus pun membuat para nelayan untuk lebih membuka pandangannya akan makna suatu kehidupan yang tengah mereka jalani. Hal itulah yang membuat mereka untuk mengganti profesi yang semula menjadi seorang nelayan nelayan hingga menjadi ‘penarik’ perahu.
Hal positif (suka) para nelayan, yakni Bapak Warochman, Bapak Safrudin, Bapak Suwarno, Bapak Tono, dan Bapak Achmad pada saat mereka menjadi nelayan. Pertama, mereka mengakui bahwa mereka sangat menyukai berlayar di tengah lautan yang begitu luas, mereka senang melihat pemandangan yang ada di laut pada saat pagi hingga malam hari sehingga mereka merasa sangat senang untuk terus menjadi nelayan. Kedua, penghasilan yang di dapatkan untuk seorang nelayan cukup untuk menghidupi anak – anak dan istri mereka, dan mereka dapat menyekolahkan anak – anak mereka hingga lulus SMA (Sekolah Menengah Atas). Ketiga, mereka bisa berkeliling ke banyak pulau yang berada di Indonesia pada saat mereka berlayar mencari ikan, cumi – cumi, udang, kepiting, dan tangkapan hasil laut lainnya. Keempat, mereka dari segi berelasi atau dari segi sosial, mereka dapat lebih mengenal banyak orang, dan lebih banyak teman, kerena pada saat di kapal mereka akan selalu bersama selama berhari – hari, berminggu-minggu, bahkan sampai berbulan – bulan.
Selama melakukan pekerjaannya ada hal – hal negatif (duka) yang dialami para nelayan pada saat mereka berprofesi sebagai nelayan. Pertama, para nelayan mengalami kesulitan berkomunikasi dengan istri dan anak – anaknya, untuk berhubungan langsung dengan sanak keluarganya yang berada di kampung mereka harus menunggu mereka berhenti di suatu pulau dan mereka pergi ke wartel untuk dapat menghubungi keluarganya yang berada di kampung. Kedua, jika salah satu anggota keluarga mereka ada yang sedang sakit mereka akan sangat cemas akan keadaan mereka, dan yang paling ironisnya mereka harus segera pulang ke kampung halaman mereka untuk melihat atau menjenguk keluarga mereka yang mengalami sakit keras.
Walaupun telah mengganti profesi mereka bukan bearti mereka tidak senang dalam menjalani profesi baru mereka.Hal-hal positif (suka) yangdialami oleh para nelayansetelah mereka berpindah profesi menjadi ’penarik’ kapal di Pantai Marina, Ancol. Pertama, nelayan tersebut tetap dapat merasakan keindahan lautan yang mereka dapat rasakan pada saat mereka menjadi nelayan dulu. Kedua, mereka dapat lebih mudah mengirimkan uang kepada keluarga, mereka lebih mudah berkomunikasi untuk mendapatkan kabar dari sanak keluarga mereka untuk mengetahui keadaan keluarga mereka yang berada di kampung. Ketiga, mereka tetap bisa mendapatkan banyak teman di Pantai Ancol tersebut, walaupun tidak sebanyak pada saat mereka menjadi nelayan dulu. Karena ’penarik’ kapal di pantai Ancol tidak terlalu banyak.
Selain itu ada hal negatif ( duka ) yang dialami para nelayan setelah menjadi penarik kapal di pantai Ancol.Pertama, para penarik nelayan mendapatkan penghasilan yang tidak menentu setiap harinya, penghasilan yang didapatkan bergantung dari hari tersebut, jika hari Minggu, hari libur dan hari besar lainnya mereka dapat mendaptakan hasil yang cukup banyak sehingga mereka dapat mengirimkan uang hasil penghasilan mereka dapat dikirmkan kepada keluarga mereka yang berada di kampung. Jika hari tersebut hari biasa, penghasilan para penarik perahu tersebut hanya cukup untuk biaya kehidupan mereka di Jakarta dan itupun hanya untuk makan, untuk tempat tinggal mereka tinggal di kapal yang mereka miliki sekarang ini.